Info update
Loading...
Rabu, 31 Juli 2024

Kotak Kosong Bisa Menang Partai Politik Pengusung Jangan Ambisi Mengusung Satu Pasangan, Kotak Kosong Membuat Rakyat Memilih Tidur Dirumahnya Ketimbang Datang Ke TPS.

Direktur Mappilu-Lippi, S.Kadir Sijaya.
"Partai Politik jangan seperti anak-anak kecil yang tak punya banyak pilihan, ketika diberi gula-gula maka itu jadi, sementara kurang bagus bagi kesehatannya".Bahkan
Kotak kosong bisa menang kalau rakyat muak karena tak ada pilihan nya mencari calon pemimpinnya yang dianggap cakep untuk Sulsel, 7/7/2024.

MAKASSAR (MEDIA INDONESIA HEBAT) Partai Politik Pengusung Jangan Ambisi Mengusung Satu Pasangan, Kotak Kosong Membuat Rakyat Memilih Tidur Dirumahnya Ketimbang Datang Ke TPS, akibatnya Demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. 


Banyaknya pemberitaan tentang wacana kotak kosong dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mencuat setelah Partai Gerindra memberikan rekomendasi kepada pasangan Andi Sudirman Sulaiman – Fatmawati Rusdi akhir-akhir ini.

Kalau terjadi Kotak Kosong maka bisa jadi suara benar-benar terjadi kosong alias tidak ada suara. Karena rakyat tak diberi pilihan lain dalam memilih pemimpinnya. Fenomena ini memicu sindiran mengenai apakah kotak kosong akan mempermalukan partai yang memilih kandidat. 

Masih ada waktu bagi partai politik untuk berpikir demi masa depan Demokrasi, agar partai bisa melihat secara utuh. Jangan mendominasi pasangan yang dianggap punya pengaruh lalu menjatuhkan pilihan yang tidak memberikan ruang kepada rakyat untuk memilih yang lain. 

Sangat buruk bagi Demokrasi kita di Sulsel ini kalau perjuangan Reformasi dikerdilkan hanya karena ambisi pengurus partai di Pusat yang berfokus pada satu pasangan saja.

Banyak Figur yang dimiliki partai besar seperti Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai PPP dll sebagainya yang sosok kadernya jauh lebih potensi untuk memimpin Sulsel kedepan. Oleh karena berikanlah pilihan rakyat dengan jalan tidak mendominasi satu pasang seperti issue selama ini berkembang.

Apalagi di Makassar sudah ada pengalaman, justru Kotak Kosong yang menang ? Akibatnya pemerintahan staknan dan tidak berjalan sebagai mana mestinya. Pemerintahan resmi secara undang undang tertunda dan kerugian besar bagi rakyat kalah itu, sehingga inilah yang mesti Partai Politik pikirkan nasib rakyat, jangan karena ambisi yang mencuat dan kepentingan politik. 

Demokrasi adalah miliknya rakyat, sebagai pemegang suara , sehingga sepatutnya rakyat mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan untuk memilih pilihannya dalam menentukan calon Gubernur dan wakilnya, pungkas Direktur Lembaga Mappilu-Lippi ( Masyarakat Pers Pemantau Pemilu dan Lembagai Independen Pemerhati Pemerintahan Indonesia) 

Menurutnya lagi, banyak figur yang lebih berprestasi, pemimpin yang punya pengalaman banyak, sudah jadi wakil rakyat baik di DPR/DPRD), bahkan sudah menjadi Bupati berkali-kali, banyak pengalamannya di pemerintahan dan itu tidak diragukan lagi, ujarnya. 

Sehingga banyak pilihan kalau kandidat mau di cerita,. penuh karya dan prestasi dalam kepemimpinannya di Sulsel, sosok-sosok seperti inilah yang mesti dipikirkan oleh Partai-partai sebagai pengusung sehingga rakyat punya referensi, siapa bakal yang bisa menjadikan Sulsel lebih maju dan rakyat lebih sejahtera kedepannya. 

Bukan meragukan apalagi menyepelekan kandidat Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi, pasangan ini baik, terbukti perna memimpin walau hanya separoh dalam perjalanan masing-masing pemerintahannya. 

Tapi kalau ada kandidat bersaing tentu jauh lebih baik dan rasanya Berdemokrasi itu sempurna dimata masyarakat Sulsel.

Kalau rakyat diberikan pilihan tentu Pilgub Sulsel kedepan warga Sulsel akan bersemangat lagi. Karena disinilah akan terlihat siapa  yang punya bibit, bebet, bobot dan kualitas bakal memajukan Sulsel dan pencapaian kesejahteraan rakyat secara keselurahan.

Kita ini sudah merdeka 79 tahun, jangan biarkan Demokrasi mundur, perjuangan Reformasi masih kita kenang bersama, menyisahkan trauma mendalam, ujar Dessi panggilan  akrab Direktur Mappilu-Lippi menanggapi santernya kotak kosong di Pilgub Sulsel.

Kalau sebelumnya, pasangan Andi Sudirman Sulaiman – Fatmawati Rusdi ini sudah didukung oleh Partai NasDem 17 kursi, dan Partai Demokrat 7 kursi dan akan mendominasi Partai tentu sangat berbahaya bagi Demokrasi saat ini. Kita tidak boleh mundur, rakyat harus diberikan pilihan dalam menentukan pemimpin nya kedepan.

Demikian halnya PAN yang memiliki empat kursi juga disebut-sebut segera menyiapkan rekomendasi untuk Andi Sudirman Sulaiman.

PKB yang mengontrol 8 kursi juga kabarnya segera mendeklarasikan pasangan ini juga untuk maju di Pilgub Sulsel 2024.

Jika dihitung total jumlah kursi yang berhasil dikumpul jika partai-partai ini berkoalisi yakni, 49 dari total 85 kursi DPRD Sulsel.

Sementara Partai politik yang belum menyatakan sikap hingga saat ini adalah, Golkar  14 kursi,  PKS 7 kursi,  dan Hanura Satu kursi.

Adapun PPP yang telah menyatakan dukungan pada Danny Pomanto, dengan mengatongi delapan kursi tentu ini belum cukup. Meskipun partai PDIP turut mendukung yang mengatongi enam kursi. Total kursi kedua partai ini hanya 14 kursi sementara syarat calon gubernur-wakil Sulsel minimal 17 kursi.

Kesan memborong partai politik di Pilgub Sulsel nampak di depan mata rakyat dan menimbulkan wacana pasangan Andi Sudirman Sulaiman – Fatmawati Rusdi akan melaju sendiri di Pilgub Sulsel alias akan melawan kotak kosong ? 

Kalau hal ini terjadi, Demokrasi sudah tak punya lagi Marwah, sehingga rakyat kedepannya tak percaya lagi para wakilnya yang berada dibarisan Partai. Bukankah pemegang mandat dan punya suara untuk memilih berada ditangan rakyat kalau mengacu dalam UU, yang sesungguhnya ada ditangan rakyat.

Sejumlah kandidat pun merespon betapa mahalnya kalau semua itu hanya kemauan partai yang harus jadi. Seperti respon Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menilai wacana kotak kosong merupakan langkah mundur yang dapat merugikan Demokrasi yang sesungguhnya rakyat tidak suka itu, tak ada pilihan, seolah-olah tidak ada Tokoh di Sulsel yang dianggap baik ?

Masyarakat harus memahami bahwa menjadikan kotak kosong sebagai pilihan dalam kontestasi politik adalah bentuk pengabaian terhadap kualitas pemilihan,” jelas IAS yang dikutip dibeberapa media.

Sementara itu, Danny sempat menyatakan bahwa fenomena paslon versus kotak kosong bukanlah hal baru, sudah pernah terjadi, akibatnya kotak kosong menang, rakyat dirugikan karena pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sebab, kandidat lawan kotak kosong pernah terjadi di Pilwali Makassar 2018. Di (Pilwali) Makassar, bahkan kotak kosong pernah menang,” urai Danny Pomanto.

Meskipun demikian, Walikota Makassar ini menekankan  isu kotak kosong harus dipertimbangkan apakah Sulsel kekurangan sosok pemimpin yang baik ?

Tidak ada upaya khusus dari saya. Ini adalah tanggung jawab kita semua. Kita harus mempertimbangkan apakah Sulsel kekurangan pemimpin dan bagaimana kita bisa menguji kandidat jika kotak kosong menjadi pilihan sehingga rakyat tak punya Referensi lain, ujarnya.

Sedangkan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan semakin banyak parpol pengusung, maka semakin bagus.

“Pada prinsipnya kita melihat nanti situasinya karena itu kan tergantung masing-masing partai,” kata Andi Sudirman usai mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Gubernur, di Kantor DPW PAN Sulsel, 

Soal wacana kotak kosong mencuat, eks Gubernur Sulsel itu mengaku tidak mengetahui wacana tersebut. Namun yang jelas, dirinya tidak persoalkan jika wacana itu terjadi.

Apalagi dirinya yang berpasangan Fatmawati Rusdi, menginginkan banyak dukungan parpol di Pilgub Sulsel.

“Kalau misalnya memang partai menginginkan kotak kosong, kan kita tidak bisa melarang. Istilahnya kalau komunikasi bagus masa dilarang,” tutupnya.

Kalau benar-benar terjadi kotak kosong hanya karena partai politik inginkan nya, sementara rakyat yang punya hak suara tidak menginginkannya, maka bisa jadi rakyat memilih berdiam diri dirumahnya masing-masing saat berlangsung pencoblosan. Tentu sangat berbahaya juga. 

Olehnya itu, partai politiknya harus berpikir dua kali jika memaksakan  dukungannya di satu pasangan saja.tidak boleh memikirkan hanya sebatas kemenangan saja, karena itu belum mutlak. Andi Sudirman - Fatmawati belum teruji apakah betul masyarakat menginginkan hanya pasangan ini maju ?

Masyarakat Sulsel masih mengenang seperti apa Andi Sudirman ketika diberi di pundaknya kepercayaan satu tahun lebih menjadi Gubernur saat pasangannya tersandung kasus sehingga dia memegang kekuasaan saat itu ? Maksimal kah kepada rakyat saat memimpin Sulsel ?

Sementara Ibu Fatmawati yang nota benenya menjadi Wawali Makassar hanya separuh berjalan dan meninggalkan jabatannya untuk bertarung di DPR RI dan kini masuk lagi sebagai Wakil Gubernur, cukupkah ilmu pemerintahannya kalau seperti ini ?

Saya kira hal-hal seperti ini perlu di pikirkan oleh Partai yang berambisi mengusung kalau hanya satu pasangan yang bertarung di Pilgub Sulsel, yang dikenal dengan Kotak Kosong ? Lalau bagaimana kalau kotak kosong menang ? Siapa yang rugi ?

Sebaiknya Partai-Partai memikirkan keinginan rakyat agar mengusung sampai tiga pasangan maju. Jangan bertumpu hanya satu pasang saja. Ini Demokrasi, HAK nya rakyat sebagai pemegang kekuasaan sebagai mana dalam UU. Karena ditakutkan rakyat lebih memilih berdiam diri dirumahnya atau sekali pergi kerja berangkat pagi dan pulang malam karena menghindari pergi di TPS. 

Kerena menurutnya tidak ada pilihan, atau sekali Kotak Kosong yang mereka pilih, kan lebih memalukan kalau terjadi seperti ini, ujar Direktur Lembaga MAPPILU-LIPPI, S.Kadir Sijaya di Kantornya menanggapi adanya sinyalemen kotak kosong bertarung di Pilgub Sulsel ? (REDAKSI MIH)


0 komentar :

Posting Komentar

Back To Top